Sinopsis
Sebelumnya Dusun Harjo Binangun adalah suatu kawasan yang subur dan makmur. Dusun itu dikenal dengan sistem agrarisnya yang kuat. Tapi karena kutukan yang masih berlangsung hingga kini, lima penghuni Dusun Harjo Binangun, yakni Pak Genggong, Yu Legi, Mbah Sukro, Jeng Sri, dan Kliwon, menjadi penganut paham Darpin.
Karena kekeringan yang terjadi di dusun mereka selama hampir 100 tahun, membuat mereka melakoni hidup dengan menjadi pemburu mayat. Dan tidak sembarang mayat yang mereka curi, tetapi mayat itu haruslah perempuan dengan weton Anggara Kasih atau Selasa Legi.
Syarat-syarat tersebut harus dipenuhi karena adanya kisah turun-temurun tentang sebuah peristiwa mengenaskan yang dialami oleh keluarga Den Baguse Suryo Binangun, yang merupakan pendiri Dusun Harjo Binangun. Suatu malam keluarga itu disatroni sekawanan perampok yang menguras harta benda dan bahkan memperkosa Laras Binangun, istri Den Baguse Suryo. Setelah peristiwa tersebut, kawanan perampok itu lenyap bagaikan tertelan bumi. Karena peristiwa malam jahanam itulah, akhirnya meninggalkan trauma tak berkesudahan bagi Laras dan ia pun bunuh diri dalam keadaan hamil akibat benih dari pemerkosanya karena tidak kuat menanggung trauma psikologis.
Menemukan istri tercintanya meninggal dengan cara mengenaskan, membuat Den Baguse Suryo meninggalkan dusun dan hidup di sebuah bukit. Dan bukit itu dinamakan sebagai Bukit Larangan, karena tidak seorang pun selain yang diinginkan boleh memasukinya. Oleh karena dendam kesumatnya, akhirnya Dusun Harjo Binangun menanggung amarah penggede dusun itu sampai-sampai mengalami kekeringan pangan, terutama kelangkaan padi atau palawija lainnya. Untuk mempertahankan hidup itulah, kelima penghuni dusun tersebut melakukan ritual supaya dapat memperoleh palawija yang akhirnya akan dijual lagi pada warga dusun yang lainnya.
Mayat-mayat buruan, dicuri dari tanah pekuburan di dusun-dusun tetangga. Sehingga isyu pemburu mayat sampai saat ini misteri yang terkandung di baliknya belum terkuak. Tapi tidak semua pengikut paham Darpin meninggalkan makam dengan lubang menganga. Sehingga, aktivitas ritual Darpin tidak mudah terendus oleh warga sekitarnya. Namun demikian, pengikut paham Darpin bukanlah tipikal orang-orang yang hendak menyejahterakan diri masing-masing. Seperti yang telah diungkapkan di atas, mereka melakukannya untuk mempertahankan keberlangsungan hidup warga Dusun Harjo Binangun (the point of The CIRCLE a dark pin to keep alive). Tetapi sebaliknya, warga dusun pada umumnya tidak mengetahui bahwa kelima orang tersebut adalah pengikut paham Darpin.
Mengapa lima penghuni kampung tersebut mengikuti paham Darpin? Karena mereka adalah kunci-kunci berlangsungnya ritual kesuburan untuk mengubah mayat menjadi bahan pangan. Masing-masing orang tersebut ternyata memiliki garis keturunan dengan Den Baguse Suryo Binangun. Dengan masing-masing weton [hari pasaran] mereka yakni kliwon, legi, pahing, pon, dan wage yang menyimbolkan ‘keblat papat kalima pancer’, maka bisa membuka pintu gaib antara mereka dengan Darpin atau mbaureksane Bukit Terlarang alias Den Baguse Suryo Binangun. Dengan membawakan mayat perempuan yang punya weton Selasa Legi, maka hal ini akan menyenangkan Darpin karena mengingatkannya pada Laras Binangun, istrinya tercinta.
Adanya kepercayaan animisme-dinamisme yang masih berakar kuat di Dusun Harjo Binangun itulah yang akhirnya membawa Freaksi, sekelompok anak muda kreator film dokumenter untuk melakukan perburuan objek di sana. Hal ini mereka lakukan karena ingin mengikuti ajang kompetisi film dokumenter yang digelar oleh sebuah stasiun televisi swasta. Tidak tanggung-tanggung, karena pemenangnya bisa direkrut menjadi tim kreatif film dokumenter di stasiun televisi tersebut. Tentu saja, iming-iming hadiah yang luar biasa itu menjadikan Gunung, Anton, Bob, Arya, Dora, dan Li Xia, antusias untuk menghasilkan karya yang cerdas dan eksotis.
Selama berada di susun tersebut, kelompok Freaksi sering menemukan kejadian-kejadian ganjil dan magis. Belum lagi kehadiran mereka yang diam-diam dicurigai oleh pengikut paham Darpin. Meski demikian, karena kebulatan tekad mereka tetap bertahan untuk mendapatkan materi-materi yang mereka butuhkan untuk membuat film dokumenter. Apalagi semenjak kehadiran Murni, anak kepala dusun, yang memuluskan mereka untuk mendekati warga dusun dan mengikuti aktivitas mereka.
Sampai akhirnya karena Murni sebagai gadis dusun yang lugu dan jatuh cinta pada Gunung, ia lantas menceritakan tentang Yu Legi yang sebenarnya adalah pengikut paham Darpin. Gunung yang tidak mempercayai hal tersebut kemudian diajak oleh Murni untuk mengintip di lumbung di rumah Yu Legi dan ia pun tertegun saat melihat bagaimana Yu Legi berubah menjadi seekor kalong dan terbang melesat ke luar ruangan.
Sejak peristiwa itu, Gunung yang tertarik dengan dunia mistik, semakin penasaran. Esok pagi harinya ia pun ditemani oleh Murni mendatangi pasar. Berpura-pura untuk belanja padahal hanya ingin mengintai Yu Legi yang sedang berdagang. Yu Legi yang merasa aneh melihat dua anak muda itu terus-terusan mengawasinya, akhirnya pergi dan menemui Pak Genggong.
Pada suatu malam, Gunung cs dan Murni pergi ke tepian Bukit Terlarang. Setelah pada sore harinya terjadi pencurian mayat di Dusun Melati Wetan, mereka yakin bahwa akan terjadi sesuatu. Benar, karena akhirnya mereka melihat bagaimana Pak Genggong cs sedang melakukan ritual. Dan menakjubkan bagaimana mayat iru akhirnya menjadi butiran beras dan palawija lainnya.
Beberapa hari kemudian, terjadi peristiwa menghebohkan di Dusun Harjo Binangun. Seorang ibu menemukan dua bola mata manusia di dandang nasinya. Demikian juga seorang bocah melihat potongan kuping manusia di karung jagung milik neneknya. Setelah ditelusuri ternyata kejadian ini karena ulah Kliwon – salah satu pengikut paham Darpin – yang salah mengambil mayat. Karena mayat yang diambilnya, yang dikatakan seorang perempuan, ternyata adalah waria [wanita pria]. Tentu saja keteledoran Kliwon ini memancing kemarahan pengikut Darpin lainnya. Dan mereka pun sempat berbaku hantam. Tetapi Yu Legi karena memahami karakter mental Kliwon yang agak tidak normal, akhirnya berusaha untuk melerai mereka semua.
Freaksi yang mengetahui bagaimana ritual persembahan itu dilakukan, mereka mencoba untuk melakukannya dengan harapan dapat bertemu dengan Darpin. hal inilah yang menjadi awal perseteruan antara Gunung cs dengan Pak Genggong cs. Dan mereka akhirnya berkelahi sampai Darpin akhirnya muncul dan menteror Gunung cs dan menyebabkan Anton tewas karena diserang oleh ribuan belalang yang tak lain adalah penjelmaan dari Darpin itu sendiri.
Suasana menegangkan terus bermunculan. Sampai pada malam ke-100 tahun meninggalnya Laras Binangun. Malam itu Ki Slamet Gundono menggelar pertunjukan wayang suket dengan lakon pembebasan Dewi Sri dari penculikan Batara Kala dan dihadiri oleh seluruh warga dusun.
Akhirnya, setelah kematian Anton, kelim aanggota Freaksi yang tersisa memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Apalagi adanya peristiwa Pak Genggong cs yang lenyap dan berubah menjadi sekawanan burung tuhu atau kholik. Selain Gunung, anggota Freaksi lainnya ketakutan dan terbebani psikologis mereka dengan kejadian-kejadian magis di dusun tersebut. Murni yang kehilangan ayahnya, akhirnya hidup bersama dengan keluarga Pakde Warto yang ternyata masih terhitung saudara jauh.
Sesaat setelah Gunung cs meninggalkan halaman rumah Pakde Warto, di tengah jalan seperti pada mulanya mereka datang, bertemu dengan sepasang kalong yang melesat cepat di atas mobil mereka. Kedua kalong itu kemudian berputar-putar dan melesat kembali hampir menabrak kaca depan mobil. Seketika mereka yang ada di mobil berteriak keras. Murni dan Ki Slamet Gundono tampak berdiri di puncak Bukit Terlarang dan menatap kepergian mereka.
Sabtu, 20 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar