Sabtu, 20 Februari 2010

SKENARIO FILM DARPIN

Benarkah cerita horor atau misteri itu laris? Mungkin benar demikian. Jika tidak, mana mungkin banyak produser mau memproduksi genre film yang berkesan menggidikkan itu? Meski menuai pro-kontra di tengah masyarakat dan sering membuat bulu kuduk merinding, tapi film jenis ini sering membuat penasaran. Artinya, meski serem, tapi banyak yang takut rugi jika melewatkan kisah-kisahnya.

Jumlah film Indonesia yang beredar sepanjang lima tahun terakhir ini mencapai puluhan judul. Namun yang bisa menyedot perhatian dan mengumpulkan banyak penonton hanya ada dua macam saja, yaitu film drama remaja dan horor. Sampai saat ini pun banyak film horor yang telah diproduksi, ambil saja contoh ‘Tusuk Jelangkung’, ‘Titik Hitam’, ‘Kafir’, ‘Bangsal 13’, ‘Ada Hantu Di Sekolahan’, ‘Di Sini Ada Setan’, ‘The Soul’, ‘Mirror’, ‘Rumah Pondok Indah’, dan yang teranyar adalah ‘Sundel Bolong 2’.

Fenomena ini merupakan gejala psikologis masyarakat kita, bahkan juga sebagian manusia di seluruh belahan dunia. Barangkali, ini disebabkan karena manusia memang suka penasaran dengan dunia selain tempatnya hidup. Manusia adalah makhluk yang selalu ingin tahu, dan tak jarang yang tergila-gila untuk melakukan observasi dan eksplorasi untuk mencari tahu kebenaran dunia antah-berantah. Orang Amerika saja juga penasaran untuk mengintip kehidupan di luar angkasa sana. Malah dengan keliaran fantasinya mereka mencoba menciptakan makhluk yang diberi nama ‘Alien’ dan kita bisa menontonnya dalam film ‘ET’, atau serangkaian film yang berbau fantasi seperti ‘Star Trek’, ‘Superman’, dan sebagainya. Belum lagi daftar panjang film horor yang menceritakan tentang pangeran kegelapan Dracula, Dr Frankenstein, Werewolf si manusia serigala, dan seterusnya.

Ya, memang tidak begitu jelas alasan mereka menciptakan tokoh khayalan seperti itu, tapi yang pasti rasa penasaran untuk mengetahui dunia selain tempat tinggal kita menjadi alasan mengapa orang suka dengan dunia mistik. Namanya juga misteri, berarti sesuatu yang masih belum gamblang. Justru itulah yang bikin penasaran bukan?
Tapi tentu saja, kita lantas bukan menciptakan sebuah kisah horor atau misteri yang tidak ada juntrungannya. Tidak semata-mata untuk menginjeksi psikologis penonton sehingga jantung mereka jadi dag-dig-dug sampai seusai nonton pun masih terbayang-bayang sehingga tidak bisa tidur. Melainkan, sebuah film harus tetap memiliki suatu misi yang ingin disampaikan kepada penonton di balik kisah tersebut.
Satu lagi yang menjadi tantangan terberat adalah bagaimana menciptakan sebuah ikon horor mampu menjadi franchise yang digemari laiknya tokoh superhero. Memang di antara ikon dan kisah horor, ada juga yang berhasil menjadi cult hingga mempunyai banyak fans yang fanatik [Cult movie adalah istilah untuk film yang semula dilecehkan namun tak bisa begitu saja dilupakan, semisal kisah setan fenomenal ‘Freddy Krueger’]. Tapi, sangat jarang seorang tokoh sentral mampu menjadi ikon monumental setenar Dracula, Werewolf, atau Hannibal Lecter sehingga perlu dibuat sequelnya dalam trilogi: ‘Silence of The Lambs’, ‘Hannibal’, dan ‘Red of The Dragon’.
Jadi, mungkinkah film Indonesia [baca: The Circle] mampu merebut perhatian penonton dan mencengangkan jagad sinema Nusantara? Selain karena faktor anugerah, semua itu tergantung pada skill, profesionalisme, kreativitas, solidaritas, serta kerja keras para kreatornya yang bernama ‘teamwork’. Dan seperti ungkapan yang sering kita dengar bahwa everything is possible if you trust!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar