Masyarakat tradisional, yang hidup di suatu daerah secara turun temurun memiliki pengetahuan praktis dalam rangka bertahan hidup di alam lingkungannya. Pengetahuan tersebut meliputi keseluruhan aspek kehidupan seperti pertanian, penyediaan makanan, dan bagaimana mengelola lingkungan hidup. Pengetahuan tersebut sangat penting bagi kelangsungan kehidupan mereka dan merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan hidup yang khas dan telah teruji oleh waktu. Sehingga, di Indonesia dengan keanekaragaman budaya dan adat istiadat tradisional, merupakan sumber yang sangat kaya akan berbagai jenis kearifan tradisional (indegenous knowledge).
Sejak zaman awal kehidupan Jawa (masa pra Hindu-Buddha), masyarakat Jawa telah memiliki sikap spiritual tersendiri. Era ini disebut juga sebagai zaman Jawa Kuno, di mana masyarakat Jawa menganut kepercayaan animisme-dinamisme. Yang terjadi sebenarnya adalah masyarakat Jawa saat itu telah memiliki kepercayaan akan adanya kekuatan yang bersifat tak terlihat (gaib), besar, dan menakjubkan. Mereka menaruh harapan agar mendapat perlindungan, dan juga berharap agar tidak diganggu kekuatan gaib lain yang jahat (roh-roh jahat).
The Circle tentu saja tidak murni sebagai kisah nyata, tapi hanya mengambil ide dasar dari sebuah mitologi yang ada di suatu daerah di Jawa. Melalui pengembangan dari fakta yang ada kemudian dikombinasi dengan unsur fiksi. Penggarapan dari film ini akan mengarah pada kisah petualangan yang menarik dan memberikan wawasan bagi penonton. Karena mengenal sebuah masyarakat etnik tertentu, tidak sekedar dari bentuk kostum dan bahasa yang digunakan semata. Tapi ada hal lain, yaitu nilai-nilai budaya dan filosofi yang terkandung di dalamnya dan tercermin dalam pola pikir dan adat-istiadatnya.
Sebagaimana masyarakat agraris lainnya di Indonesia, setiap daerah memiliki tradisi lisan. Tradisi lisan ini seringkali berkaitan dengan bahasa-bahasa ritual dan upacara adat formal yang berlaku dalam etnis tersebut. Demikian pula di Jawa, sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan hidup warga Dusun Harjo Binangun yang umumnya merupakan petani ladang kering, terdapat hubungan yang erat antara ritus dan mitos pertanian dengan keyakinan religius tradisional. Hal ini tampak pada ritus yang sering dilakukan oleh warga dusun berkaitan dengan permohonan kesuburan pada tanah mereka. Salah satunya adalah dengan menggelar pertunjukan wayang suket pada malam ke-100 tahun meninggalnya Laras Binangun [istri Den Baguse Suryo Binangun, pendiri Dusun Harjo Binangun].
Ritus-ritus yang dilaksanakan warga dusun berkaitan secara emosional dengan mitologi dan sistem kepercayaan mereka mengenai roh, alam semesta, bumi, dan kutukan. Sehingga untuk mengembalikan tanah mereka yang dulunya subur dan makmur, mereka mengadakan pemujaan terhadap roh-roh leluhur. Sedangkan oleh pengikut paham Darpin yaitu Pak Genggong, Yu Legi, Jeng Sri, Mbah Sukro, dan Kliwon, dengan menggunakan ritus yang lebih ekstrim dengan persembahan mayat segar [yang baru meninggal selama sehari] berjenis kelamin perempuan dan dilahirkan pada Selasa Legi [Anggara Kasih].
Adanya sistem kebudayaan Kejawen inilah yang ingin disampaikan – meski tidak dengan mendalam – bahwa Jawa adalah sebuah etnis yang eksotis. Tetapi, Jawa dalam konteks di film ini sengaja dikaburkan dan tidak menunjuk secara telak apakah itu Jawa di Jogjakarta, Surakarta, Pesisiran, atau yang lainnya. Tetapi yang jelas adalah menunjuk Jawa di seputar daerah Jawa Tengah. Hal ini dilakukan supaya tidak terjadi gejolak publik karena situasi mental masyarakat yang mudah terprovokasi.
Sabtu, 20 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar