Senin, 24 November 2014
Kamis, 18 Juli 2013
open casting
18 Juli 2013
open casting film mata ketiga
Pemeranan Guru pria 30-40 tahun, Kepsek pria 45 tahun, Om Made 40-50 tahun,krisno 35-50 tahun, ryan 35 - 45 tahun.
Gedung gajah AB, jalan saharjo raya 111 tebet , jaksel
jam 16
open casting film mata ketiga
Pemeranan Guru pria 30-40 tahun, Kepsek pria 45 tahun, Om Made 40-50 tahun,krisno 35-50 tahun, ryan 35 - 45 tahun.
Gedung gajah AB, jalan saharjo raya 111 tebet , jaksel
jam 16
Sabtu, 17 April 2010
Sabtu, 20 Februari 2010
SKENARIO FILM DARPIN
Characters
Gunung
Pemuda berusia 23 tahun. Memiliki raut tampan asli Indonesia atau nJawani. Gunung memiliki kepribadian sedikit introvert akibat ia mempunyai daya linuwih dalam dirinya. Pemuda indigo ini memiliki kecerdasan dan tertarik dengan dunia gaib. Selain tertarik di bidang audio-visual, membaca buku-buku spiritual, ia juga penggila olahraga khususnya bela diri.
Arya
Pemuda Sunda yang berkarakter penurut. Tapi di lain waktu, ia bisa menjadi seorang yang penakut dan menderita phobia dadakan ketika harus menghadapi hal-hal yang belum pernah dialaminya.
Bob
Pemuda berusia 22 tahun dan berasal dari Indonesia bagian timur (Maluku atau Papua). Memiliki kepribadian yang polos dan jujur. Karena kedua sifatnya tersebut, ia sering terlihat konyol dan kocak. Ia hobi menyanyikan lagu-lagu rohani dan daerahnya serta penganut Kristen yang taat. Melihat tingkah lakunya yang sering memancing senyum, Bob menjadi orang yang selalu dinanti-nantikan kehadirannya oleh teman-temannya yang lain. Lucia dan Dora biasa mengoloknya dengan memanggilnya ‘Baby’.
Anton
Pemuda keturunan Indo Amerika ini penggila musik-musik beraliran keras. Salah satu kelompok band favoritnya adalah Metallica. Judul lagu yang sering didengarkannya adalah The Prince. Ia memiliki temperamen yang cukup keras dan protektif dengan segala sesuatu yang berhubungan erat dengannya. Bisa dipahami jika dia memiliki rasa solidaritas yang kuat terhadap teman-temannya.
Dora
Gadis asli Jakarta ini kelakukannya tomboy. Usianya 20 tahun. Ia seorang fotografer dan objek-objek fotonya adalah moment-moment dengan nilai humanisme yang tinggi. Potongan tubuhnya atletis dan berambut pendek berwarna kemerahan. Pribadinya tegas dan gaya bicaranya ceplas-ceplos. Dora dulunya adalah seorang rock climber. Di dalam petualangan ini, ia sering menawarkan diri menjadi bumper saat harus hunting di lokasi-lokasi yang sulit.
Li Xia
Gadis Cina yang bertutur kata lembut dan sedikit pemalu. Tapi jangan salah, ia pandai memainkan wushu, salah satu jenis bela diri dari Cina. Li Xia yang sering juga dipanggil Lucia berpikiran cerdik dan penuh strategi. Karena latar belakang etnisnya dan kebiasaannya melahap buku-buku strategi perang ala Cina, ia menjadi andalan kelompok dalam merencanakan langkah-langkah di dalam memburu suatu berita atau objek-objek visual.
Pak Genggong
Kepala dusun dengan kepribadian tegas. Ia sangat disegani oleh warganya. Duda berusia 45 tahun ini adalah ayah Murni. Pak Genggong pandai menabuh kendang dan sesekali ia nembang diiringi oleh kendangannya itu. Meski demikian, terkadang muncul juga karakternya yang nyentrik, karena ia memang dilahirkan dari keluarga seniman. Pak Genggong adalah tipikal pemimpin yang sangat melindungi warganya dan selalu mengingatkan warganya untuk melakukan sedekahan supaya diberi rezeki yang lancar.
Yu Legi
Pedagang sayur di pasar. Ia adalah salah satu dari pengikut Darpin. Secara lahiriah, Yu Legi berperawakan tinggi besar, berambut panjang dan selalu tergelung diselipi setangkai melati, berwajah cantik khas Jawa. Dari segi sifat, Yu Legi seorang yang cukup anteng, cenderung tertutup. Meski demikian, ia seorang yang cakap dalam bekerja, ringan tangan, dan pandai olah kanuragan. Usianya sekitar 30-an tahun.
Kliwon
Pemuda berusia 25 tahun yang mempunyai kelainan jiwa yan tercermin dari tindak-tanduknya yang terlihat kekanak-kanakan dan tampak innocent. Wajahnya tampan tapi tidak begitu terawat. Suka mengenakan celana jins dan kaos oblong. Rambut pun sedikit panjang dan punya kebiasaan suka mengisap-isap setangkai rumput.
Murni
Sepupunya Kliwon. Usianya di bawah 20 tahun. Berwajah manis dan bertubuh langsing. Rambutnya hitam dan panjang. Gadis yang ramah ini memiliki hubungan yang akrab dengan 6 Souls. Murni sempat jatuh cinta dengan Gunung, tapi hal itu terhenti setelah sebuah rahasia terkuak. Gunung tak lain adalah saudaranya sendiri.
Mbah Sukro
Juru kunci sumur ‘Sumber Urip’. Lelaki ini berusia 70-an tahun dan bertindak-tanduk misterius. Meski usianya sudah uzur, tetapi ia masih memiliki tubuh yang kuat. Kekuatan ini terpancar juga dari karakter wajahnya. ia memiliki kebiasaan merokok klobot dan berpakaian pangsi. Mbah Sukro sering juga dimintai tolong oleh penduduk yang memiliki konflik yang berkaitan dengan dunia klenik, tetapi enggan dibilang dukun. Ia juga salah satu pengikut paham Darpin.
Ki Slamet Gundono
Memerankan dirinya sendiri sebagai dalang wayang suket. Tapi di dalam cerita ini, tidak ada orang yang tahu bahwa ia memiliki hubungan darah dengan Laras Binangun tetapi hidup di lain daerah.
Jeng Sri
Adalah seorang teledek atau ronggeng berusia 40-an tahun tapi masih terlihat cantik dan awet muda. Dia dulunya adalah kembang dusun dan menjadi penari setiap ada acara ritual dusun hingga sekarang. Kedudukan Jeng Sri cukup dihormati. Ia juga salah satu penganut paham Darpin.
Pakde Warto
Pakdenya Gunung yang memiliki tipikal sabar tapi tegas. Ia adalah kakak dari ibunda Gunung yang tinggal di Dusun Harjo Binangun. Memiliki kedekatan psikologis yang kental dengan Gunung, karena saat kecil Gunung sempat dirawat olehnya sampai remaja sebelum kemudian pindah ke Jakarta.
Bude Rengganis
Istrinya Pakde Warto. Tipikal perempuan Jawa yang lembut dan keibuan. Karena sifatnya itulah, ia menjadi tempat curahan hati Gunung, bahkan teman-teman Gunung yang lain.
Den Baguse Suryo Binangun/Darpin
Adalah penjelmaan atau reinkarnasi dari Den Baguse Suryo Binangun. Ia dulunya adalah pendiri Dusun Harjo Binangun. Lelaki kaya dan masih keturunan ningrat ini sangat mencintai istrinya (Laras Binangun). Semasa hidupnya ia sarat dengan lelaku ritual, karena pada masa itu animisme-dinamisme masih sangat dominan. Karena sebuah peristiwa yang akhirnya merenggut nyawa istrinya, Den Baguse Suryo menepi di puncak bukit. Warga dusun percaya bahwa ia sekarang menjadi semacam mbaureksane bukit terlarang.
Gunung
Pemuda berusia 23 tahun. Memiliki raut tampan asli Indonesia atau nJawani. Gunung memiliki kepribadian sedikit introvert akibat ia mempunyai daya linuwih dalam dirinya. Pemuda indigo ini memiliki kecerdasan dan tertarik dengan dunia gaib. Selain tertarik di bidang audio-visual, membaca buku-buku spiritual, ia juga penggila olahraga khususnya bela diri.
Arya
Pemuda Sunda yang berkarakter penurut. Tapi di lain waktu, ia bisa menjadi seorang yang penakut dan menderita phobia dadakan ketika harus menghadapi hal-hal yang belum pernah dialaminya.
Bob
Pemuda berusia 22 tahun dan berasal dari Indonesia bagian timur (Maluku atau Papua). Memiliki kepribadian yang polos dan jujur. Karena kedua sifatnya tersebut, ia sering terlihat konyol dan kocak. Ia hobi menyanyikan lagu-lagu rohani dan daerahnya serta penganut Kristen yang taat. Melihat tingkah lakunya yang sering memancing senyum, Bob menjadi orang yang selalu dinanti-nantikan kehadirannya oleh teman-temannya yang lain. Lucia dan Dora biasa mengoloknya dengan memanggilnya ‘Baby’.
Anton
Pemuda keturunan Indo Amerika ini penggila musik-musik beraliran keras. Salah satu kelompok band favoritnya adalah Metallica. Judul lagu yang sering didengarkannya adalah The Prince. Ia memiliki temperamen yang cukup keras dan protektif dengan segala sesuatu yang berhubungan erat dengannya. Bisa dipahami jika dia memiliki rasa solidaritas yang kuat terhadap teman-temannya.
Dora
Gadis asli Jakarta ini kelakukannya tomboy. Usianya 20 tahun. Ia seorang fotografer dan objek-objek fotonya adalah moment-moment dengan nilai humanisme yang tinggi. Potongan tubuhnya atletis dan berambut pendek berwarna kemerahan. Pribadinya tegas dan gaya bicaranya ceplas-ceplos. Dora dulunya adalah seorang rock climber. Di dalam petualangan ini, ia sering menawarkan diri menjadi bumper saat harus hunting di lokasi-lokasi yang sulit.
Li Xia
Gadis Cina yang bertutur kata lembut dan sedikit pemalu. Tapi jangan salah, ia pandai memainkan wushu, salah satu jenis bela diri dari Cina. Li Xia yang sering juga dipanggil Lucia berpikiran cerdik dan penuh strategi. Karena latar belakang etnisnya dan kebiasaannya melahap buku-buku strategi perang ala Cina, ia menjadi andalan kelompok dalam merencanakan langkah-langkah di dalam memburu suatu berita atau objek-objek visual.
Pak Genggong
Kepala dusun dengan kepribadian tegas. Ia sangat disegani oleh warganya. Duda berusia 45 tahun ini adalah ayah Murni. Pak Genggong pandai menabuh kendang dan sesekali ia nembang diiringi oleh kendangannya itu. Meski demikian, terkadang muncul juga karakternya yang nyentrik, karena ia memang dilahirkan dari keluarga seniman. Pak Genggong adalah tipikal pemimpin yang sangat melindungi warganya dan selalu mengingatkan warganya untuk melakukan sedekahan supaya diberi rezeki yang lancar.
Yu Legi
Pedagang sayur di pasar. Ia adalah salah satu dari pengikut Darpin. Secara lahiriah, Yu Legi berperawakan tinggi besar, berambut panjang dan selalu tergelung diselipi setangkai melati, berwajah cantik khas Jawa. Dari segi sifat, Yu Legi seorang yang cukup anteng, cenderung tertutup. Meski demikian, ia seorang yang cakap dalam bekerja, ringan tangan, dan pandai olah kanuragan. Usianya sekitar 30-an tahun.
Kliwon
Pemuda berusia 25 tahun yang mempunyai kelainan jiwa yan tercermin dari tindak-tanduknya yang terlihat kekanak-kanakan dan tampak innocent. Wajahnya tampan tapi tidak begitu terawat. Suka mengenakan celana jins dan kaos oblong. Rambut pun sedikit panjang dan punya kebiasaan suka mengisap-isap setangkai rumput.
Murni
Sepupunya Kliwon. Usianya di bawah 20 tahun. Berwajah manis dan bertubuh langsing. Rambutnya hitam dan panjang. Gadis yang ramah ini memiliki hubungan yang akrab dengan 6 Souls. Murni sempat jatuh cinta dengan Gunung, tapi hal itu terhenti setelah sebuah rahasia terkuak. Gunung tak lain adalah saudaranya sendiri.
Mbah Sukro
Juru kunci sumur ‘Sumber Urip’. Lelaki ini berusia 70-an tahun dan bertindak-tanduk misterius. Meski usianya sudah uzur, tetapi ia masih memiliki tubuh yang kuat. Kekuatan ini terpancar juga dari karakter wajahnya. ia memiliki kebiasaan merokok klobot dan berpakaian pangsi. Mbah Sukro sering juga dimintai tolong oleh penduduk yang memiliki konflik yang berkaitan dengan dunia klenik, tetapi enggan dibilang dukun. Ia juga salah satu pengikut paham Darpin.
Ki Slamet Gundono
Memerankan dirinya sendiri sebagai dalang wayang suket. Tapi di dalam cerita ini, tidak ada orang yang tahu bahwa ia memiliki hubungan darah dengan Laras Binangun tetapi hidup di lain daerah.
Jeng Sri
Adalah seorang teledek atau ronggeng berusia 40-an tahun tapi masih terlihat cantik dan awet muda. Dia dulunya adalah kembang dusun dan menjadi penari setiap ada acara ritual dusun hingga sekarang. Kedudukan Jeng Sri cukup dihormati. Ia juga salah satu penganut paham Darpin.
Pakde Warto
Pakdenya Gunung yang memiliki tipikal sabar tapi tegas. Ia adalah kakak dari ibunda Gunung yang tinggal di Dusun Harjo Binangun. Memiliki kedekatan psikologis yang kental dengan Gunung, karena saat kecil Gunung sempat dirawat olehnya sampai remaja sebelum kemudian pindah ke Jakarta.
Bude Rengganis
Istrinya Pakde Warto. Tipikal perempuan Jawa yang lembut dan keibuan. Karena sifatnya itulah, ia menjadi tempat curahan hati Gunung, bahkan teman-teman Gunung yang lain.
Den Baguse Suryo Binangun/Darpin
Adalah penjelmaan atau reinkarnasi dari Den Baguse Suryo Binangun. Ia dulunya adalah pendiri Dusun Harjo Binangun. Lelaki kaya dan masih keturunan ningrat ini sangat mencintai istrinya (Laras Binangun). Semasa hidupnya ia sarat dengan lelaku ritual, karena pada masa itu animisme-dinamisme masih sangat dominan. Karena sebuah peristiwa yang akhirnya merenggut nyawa istrinya, Den Baguse Suryo menepi di puncak bukit. Warga dusun percaya bahwa ia sekarang menjadi semacam mbaureksane bukit terlarang.
SKENARIO FILM DARPIN
Sinopsis
Sebelumnya Dusun Harjo Binangun adalah suatu kawasan yang subur dan makmur. Dusun itu dikenal dengan sistem agrarisnya yang kuat. Tapi karena kutukan yang masih berlangsung hingga kini, lima penghuni Dusun Harjo Binangun, yakni Pak Genggong, Yu Legi, Mbah Sukro, Jeng Sri, dan Kliwon, menjadi penganut paham Darpin.
Karena kekeringan yang terjadi di dusun mereka selama hampir 100 tahun, membuat mereka melakoni hidup dengan menjadi pemburu mayat. Dan tidak sembarang mayat yang mereka curi, tetapi mayat itu haruslah perempuan dengan weton Anggara Kasih atau Selasa Legi.
Syarat-syarat tersebut harus dipenuhi karena adanya kisah turun-temurun tentang sebuah peristiwa mengenaskan yang dialami oleh keluarga Den Baguse Suryo Binangun, yang merupakan pendiri Dusun Harjo Binangun. Suatu malam keluarga itu disatroni sekawanan perampok yang menguras harta benda dan bahkan memperkosa Laras Binangun, istri Den Baguse Suryo. Setelah peristiwa tersebut, kawanan perampok itu lenyap bagaikan tertelan bumi. Karena peristiwa malam jahanam itulah, akhirnya meninggalkan trauma tak berkesudahan bagi Laras dan ia pun bunuh diri dalam keadaan hamil akibat benih dari pemerkosanya karena tidak kuat menanggung trauma psikologis.
Menemukan istri tercintanya meninggal dengan cara mengenaskan, membuat Den Baguse Suryo meninggalkan dusun dan hidup di sebuah bukit. Dan bukit itu dinamakan sebagai Bukit Larangan, karena tidak seorang pun selain yang diinginkan boleh memasukinya. Oleh karena dendam kesumatnya, akhirnya Dusun Harjo Binangun menanggung amarah penggede dusun itu sampai-sampai mengalami kekeringan pangan, terutama kelangkaan padi atau palawija lainnya. Untuk mempertahankan hidup itulah, kelima penghuni dusun tersebut melakukan ritual supaya dapat memperoleh palawija yang akhirnya akan dijual lagi pada warga dusun yang lainnya.
Mayat-mayat buruan, dicuri dari tanah pekuburan di dusun-dusun tetangga. Sehingga isyu pemburu mayat sampai saat ini misteri yang terkandung di baliknya belum terkuak. Tapi tidak semua pengikut paham Darpin meninggalkan makam dengan lubang menganga. Sehingga, aktivitas ritual Darpin tidak mudah terendus oleh warga sekitarnya. Namun demikian, pengikut paham Darpin bukanlah tipikal orang-orang yang hendak menyejahterakan diri masing-masing. Seperti yang telah diungkapkan di atas, mereka melakukannya untuk mempertahankan keberlangsungan hidup warga Dusun Harjo Binangun (the point of The CIRCLE a dark pin to keep alive). Tetapi sebaliknya, warga dusun pada umumnya tidak mengetahui bahwa kelima orang tersebut adalah pengikut paham Darpin.
Mengapa lima penghuni kampung tersebut mengikuti paham Darpin? Karena mereka adalah kunci-kunci berlangsungnya ritual kesuburan untuk mengubah mayat menjadi bahan pangan. Masing-masing orang tersebut ternyata memiliki garis keturunan dengan Den Baguse Suryo Binangun. Dengan masing-masing weton [hari pasaran] mereka yakni kliwon, legi, pahing, pon, dan wage yang menyimbolkan ‘keblat papat kalima pancer’, maka bisa membuka pintu gaib antara mereka dengan Darpin atau mbaureksane Bukit Terlarang alias Den Baguse Suryo Binangun. Dengan membawakan mayat perempuan yang punya weton Selasa Legi, maka hal ini akan menyenangkan Darpin karena mengingatkannya pada Laras Binangun, istrinya tercinta.
Adanya kepercayaan animisme-dinamisme yang masih berakar kuat di Dusun Harjo Binangun itulah yang akhirnya membawa Freaksi, sekelompok anak muda kreator film dokumenter untuk melakukan perburuan objek di sana. Hal ini mereka lakukan karena ingin mengikuti ajang kompetisi film dokumenter yang digelar oleh sebuah stasiun televisi swasta. Tidak tanggung-tanggung, karena pemenangnya bisa direkrut menjadi tim kreatif film dokumenter di stasiun televisi tersebut. Tentu saja, iming-iming hadiah yang luar biasa itu menjadikan Gunung, Anton, Bob, Arya, Dora, dan Li Xia, antusias untuk menghasilkan karya yang cerdas dan eksotis.
Selama berada di susun tersebut, kelompok Freaksi sering menemukan kejadian-kejadian ganjil dan magis. Belum lagi kehadiran mereka yang diam-diam dicurigai oleh pengikut paham Darpin. Meski demikian, karena kebulatan tekad mereka tetap bertahan untuk mendapatkan materi-materi yang mereka butuhkan untuk membuat film dokumenter. Apalagi semenjak kehadiran Murni, anak kepala dusun, yang memuluskan mereka untuk mendekati warga dusun dan mengikuti aktivitas mereka.
Sampai akhirnya karena Murni sebagai gadis dusun yang lugu dan jatuh cinta pada Gunung, ia lantas menceritakan tentang Yu Legi yang sebenarnya adalah pengikut paham Darpin. Gunung yang tidak mempercayai hal tersebut kemudian diajak oleh Murni untuk mengintip di lumbung di rumah Yu Legi dan ia pun tertegun saat melihat bagaimana Yu Legi berubah menjadi seekor kalong dan terbang melesat ke luar ruangan.
Sejak peristiwa itu, Gunung yang tertarik dengan dunia mistik, semakin penasaran. Esok pagi harinya ia pun ditemani oleh Murni mendatangi pasar. Berpura-pura untuk belanja padahal hanya ingin mengintai Yu Legi yang sedang berdagang. Yu Legi yang merasa aneh melihat dua anak muda itu terus-terusan mengawasinya, akhirnya pergi dan menemui Pak Genggong.
Pada suatu malam, Gunung cs dan Murni pergi ke tepian Bukit Terlarang. Setelah pada sore harinya terjadi pencurian mayat di Dusun Melati Wetan, mereka yakin bahwa akan terjadi sesuatu. Benar, karena akhirnya mereka melihat bagaimana Pak Genggong cs sedang melakukan ritual. Dan menakjubkan bagaimana mayat iru akhirnya menjadi butiran beras dan palawija lainnya.
Beberapa hari kemudian, terjadi peristiwa menghebohkan di Dusun Harjo Binangun. Seorang ibu menemukan dua bola mata manusia di dandang nasinya. Demikian juga seorang bocah melihat potongan kuping manusia di karung jagung milik neneknya. Setelah ditelusuri ternyata kejadian ini karena ulah Kliwon – salah satu pengikut paham Darpin – yang salah mengambil mayat. Karena mayat yang diambilnya, yang dikatakan seorang perempuan, ternyata adalah waria [wanita pria]. Tentu saja keteledoran Kliwon ini memancing kemarahan pengikut Darpin lainnya. Dan mereka pun sempat berbaku hantam. Tetapi Yu Legi karena memahami karakter mental Kliwon yang agak tidak normal, akhirnya berusaha untuk melerai mereka semua.
Freaksi yang mengetahui bagaimana ritual persembahan itu dilakukan, mereka mencoba untuk melakukannya dengan harapan dapat bertemu dengan Darpin. hal inilah yang menjadi awal perseteruan antara Gunung cs dengan Pak Genggong cs. Dan mereka akhirnya berkelahi sampai Darpin akhirnya muncul dan menteror Gunung cs dan menyebabkan Anton tewas karena diserang oleh ribuan belalang yang tak lain adalah penjelmaan dari Darpin itu sendiri.
Suasana menegangkan terus bermunculan. Sampai pada malam ke-100 tahun meninggalnya Laras Binangun. Malam itu Ki Slamet Gundono menggelar pertunjukan wayang suket dengan lakon pembebasan Dewi Sri dari penculikan Batara Kala dan dihadiri oleh seluruh warga dusun.
Akhirnya, setelah kematian Anton, kelim aanggota Freaksi yang tersisa memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Apalagi adanya peristiwa Pak Genggong cs yang lenyap dan berubah menjadi sekawanan burung tuhu atau kholik. Selain Gunung, anggota Freaksi lainnya ketakutan dan terbebani psikologis mereka dengan kejadian-kejadian magis di dusun tersebut. Murni yang kehilangan ayahnya, akhirnya hidup bersama dengan keluarga Pakde Warto yang ternyata masih terhitung saudara jauh.
Sesaat setelah Gunung cs meninggalkan halaman rumah Pakde Warto, di tengah jalan seperti pada mulanya mereka datang, bertemu dengan sepasang kalong yang melesat cepat di atas mobil mereka. Kedua kalong itu kemudian berputar-putar dan melesat kembali hampir menabrak kaca depan mobil. Seketika mereka yang ada di mobil berteriak keras. Murni dan Ki Slamet Gundono tampak berdiri di puncak Bukit Terlarang dan menatap kepergian mereka.
Sebelumnya Dusun Harjo Binangun adalah suatu kawasan yang subur dan makmur. Dusun itu dikenal dengan sistem agrarisnya yang kuat. Tapi karena kutukan yang masih berlangsung hingga kini, lima penghuni Dusun Harjo Binangun, yakni Pak Genggong, Yu Legi, Mbah Sukro, Jeng Sri, dan Kliwon, menjadi penganut paham Darpin.
Karena kekeringan yang terjadi di dusun mereka selama hampir 100 tahun, membuat mereka melakoni hidup dengan menjadi pemburu mayat. Dan tidak sembarang mayat yang mereka curi, tetapi mayat itu haruslah perempuan dengan weton Anggara Kasih atau Selasa Legi.
Syarat-syarat tersebut harus dipenuhi karena adanya kisah turun-temurun tentang sebuah peristiwa mengenaskan yang dialami oleh keluarga Den Baguse Suryo Binangun, yang merupakan pendiri Dusun Harjo Binangun. Suatu malam keluarga itu disatroni sekawanan perampok yang menguras harta benda dan bahkan memperkosa Laras Binangun, istri Den Baguse Suryo. Setelah peristiwa tersebut, kawanan perampok itu lenyap bagaikan tertelan bumi. Karena peristiwa malam jahanam itulah, akhirnya meninggalkan trauma tak berkesudahan bagi Laras dan ia pun bunuh diri dalam keadaan hamil akibat benih dari pemerkosanya karena tidak kuat menanggung trauma psikologis.
Menemukan istri tercintanya meninggal dengan cara mengenaskan, membuat Den Baguse Suryo meninggalkan dusun dan hidup di sebuah bukit. Dan bukit itu dinamakan sebagai Bukit Larangan, karena tidak seorang pun selain yang diinginkan boleh memasukinya. Oleh karena dendam kesumatnya, akhirnya Dusun Harjo Binangun menanggung amarah penggede dusun itu sampai-sampai mengalami kekeringan pangan, terutama kelangkaan padi atau palawija lainnya. Untuk mempertahankan hidup itulah, kelima penghuni dusun tersebut melakukan ritual supaya dapat memperoleh palawija yang akhirnya akan dijual lagi pada warga dusun yang lainnya.
Mayat-mayat buruan, dicuri dari tanah pekuburan di dusun-dusun tetangga. Sehingga isyu pemburu mayat sampai saat ini misteri yang terkandung di baliknya belum terkuak. Tapi tidak semua pengikut paham Darpin meninggalkan makam dengan lubang menganga. Sehingga, aktivitas ritual Darpin tidak mudah terendus oleh warga sekitarnya. Namun demikian, pengikut paham Darpin bukanlah tipikal orang-orang yang hendak menyejahterakan diri masing-masing. Seperti yang telah diungkapkan di atas, mereka melakukannya untuk mempertahankan keberlangsungan hidup warga Dusun Harjo Binangun (the point of The CIRCLE a dark pin to keep alive). Tetapi sebaliknya, warga dusun pada umumnya tidak mengetahui bahwa kelima orang tersebut adalah pengikut paham Darpin.
Mengapa lima penghuni kampung tersebut mengikuti paham Darpin? Karena mereka adalah kunci-kunci berlangsungnya ritual kesuburan untuk mengubah mayat menjadi bahan pangan. Masing-masing orang tersebut ternyata memiliki garis keturunan dengan Den Baguse Suryo Binangun. Dengan masing-masing weton [hari pasaran] mereka yakni kliwon, legi, pahing, pon, dan wage yang menyimbolkan ‘keblat papat kalima pancer’, maka bisa membuka pintu gaib antara mereka dengan Darpin atau mbaureksane Bukit Terlarang alias Den Baguse Suryo Binangun. Dengan membawakan mayat perempuan yang punya weton Selasa Legi, maka hal ini akan menyenangkan Darpin karena mengingatkannya pada Laras Binangun, istrinya tercinta.
Adanya kepercayaan animisme-dinamisme yang masih berakar kuat di Dusun Harjo Binangun itulah yang akhirnya membawa Freaksi, sekelompok anak muda kreator film dokumenter untuk melakukan perburuan objek di sana. Hal ini mereka lakukan karena ingin mengikuti ajang kompetisi film dokumenter yang digelar oleh sebuah stasiun televisi swasta. Tidak tanggung-tanggung, karena pemenangnya bisa direkrut menjadi tim kreatif film dokumenter di stasiun televisi tersebut. Tentu saja, iming-iming hadiah yang luar biasa itu menjadikan Gunung, Anton, Bob, Arya, Dora, dan Li Xia, antusias untuk menghasilkan karya yang cerdas dan eksotis.
Selama berada di susun tersebut, kelompok Freaksi sering menemukan kejadian-kejadian ganjil dan magis. Belum lagi kehadiran mereka yang diam-diam dicurigai oleh pengikut paham Darpin. Meski demikian, karena kebulatan tekad mereka tetap bertahan untuk mendapatkan materi-materi yang mereka butuhkan untuk membuat film dokumenter. Apalagi semenjak kehadiran Murni, anak kepala dusun, yang memuluskan mereka untuk mendekati warga dusun dan mengikuti aktivitas mereka.
Sampai akhirnya karena Murni sebagai gadis dusun yang lugu dan jatuh cinta pada Gunung, ia lantas menceritakan tentang Yu Legi yang sebenarnya adalah pengikut paham Darpin. Gunung yang tidak mempercayai hal tersebut kemudian diajak oleh Murni untuk mengintip di lumbung di rumah Yu Legi dan ia pun tertegun saat melihat bagaimana Yu Legi berubah menjadi seekor kalong dan terbang melesat ke luar ruangan.
Sejak peristiwa itu, Gunung yang tertarik dengan dunia mistik, semakin penasaran. Esok pagi harinya ia pun ditemani oleh Murni mendatangi pasar. Berpura-pura untuk belanja padahal hanya ingin mengintai Yu Legi yang sedang berdagang. Yu Legi yang merasa aneh melihat dua anak muda itu terus-terusan mengawasinya, akhirnya pergi dan menemui Pak Genggong.
Pada suatu malam, Gunung cs dan Murni pergi ke tepian Bukit Terlarang. Setelah pada sore harinya terjadi pencurian mayat di Dusun Melati Wetan, mereka yakin bahwa akan terjadi sesuatu. Benar, karena akhirnya mereka melihat bagaimana Pak Genggong cs sedang melakukan ritual. Dan menakjubkan bagaimana mayat iru akhirnya menjadi butiran beras dan palawija lainnya.
Beberapa hari kemudian, terjadi peristiwa menghebohkan di Dusun Harjo Binangun. Seorang ibu menemukan dua bola mata manusia di dandang nasinya. Demikian juga seorang bocah melihat potongan kuping manusia di karung jagung milik neneknya. Setelah ditelusuri ternyata kejadian ini karena ulah Kliwon – salah satu pengikut paham Darpin – yang salah mengambil mayat. Karena mayat yang diambilnya, yang dikatakan seorang perempuan, ternyata adalah waria [wanita pria]. Tentu saja keteledoran Kliwon ini memancing kemarahan pengikut Darpin lainnya. Dan mereka pun sempat berbaku hantam. Tetapi Yu Legi karena memahami karakter mental Kliwon yang agak tidak normal, akhirnya berusaha untuk melerai mereka semua.
Freaksi yang mengetahui bagaimana ritual persembahan itu dilakukan, mereka mencoba untuk melakukannya dengan harapan dapat bertemu dengan Darpin. hal inilah yang menjadi awal perseteruan antara Gunung cs dengan Pak Genggong cs. Dan mereka akhirnya berkelahi sampai Darpin akhirnya muncul dan menteror Gunung cs dan menyebabkan Anton tewas karena diserang oleh ribuan belalang yang tak lain adalah penjelmaan dari Darpin itu sendiri.
Suasana menegangkan terus bermunculan. Sampai pada malam ke-100 tahun meninggalnya Laras Binangun. Malam itu Ki Slamet Gundono menggelar pertunjukan wayang suket dengan lakon pembebasan Dewi Sri dari penculikan Batara Kala dan dihadiri oleh seluruh warga dusun.
Akhirnya, setelah kematian Anton, kelim aanggota Freaksi yang tersisa memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Apalagi adanya peristiwa Pak Genggong cs yang lenyap dan berubah menjadi sekawanan burung tuhu atau kholik. Selain Gunung, anggota Freaksi lainnya ketakutan dan terbebani psikologis mereka dengan kejadian-kejadian magis di dusun tersebut. Murni yang kehilangan ayahnya, akhirnya hidup bersama dengan keluarga Pakde Warto yang ternyata masih terhitung saudara jauh.
Sesaat setelah Gunung cs meninggalkan halaman rumah Pakde Warto, di tengah jalan seperti pada mulanya mereka datang, bertemu dengan sepasang kalong yang melesat cepat di atas mobil mereka. Kedua kalong itu kemudian berputar-putar dan melesat kembali hampir menabrak kaca depan mobil. Seketika mereka yang ada di mobil berteriak keras. Murni dan Ki Slamet Gundono tampak berdiri di puncak Bukit Terlarang dan menatap kepergian mereka.
SKENARIO FILM DARPIN
Masyarakat tradisional, yang hidup di suatu daerah secara turun temurun memiliki pengetahuan praktis dalam rangka bertahan hidup di alam lingkungannya. Pengetahuan tersebut meliputi keseluruhan aspek kehidupan seperti pertanian, penyediaan makanan, dan bagaimana mengelola lingkungan hidup. Pengetahuan tersebut sangat penting bagi kelangsungan kehidupan mereka dan merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan hidup yang khas dan telah teruji oleh waktu. Sehingga, di Indonesia dengan keanekaragaman budaya dan adat istiadat tradisional, merupakan sumber yang sangat kaya akan berbagai jenis kearifan tradisional (indegenous knowledge).
Sejak zaman awal kehidupan Jawa (masa pra Hindu-Buddha), masyarakat Jawa telah memiliki sikap spiritual tersendiri. Era ini disebut juga sebagai zaman Jawa Kuno, di mana masyarakat Jawa menganut kepercayaan animisme-dinamisme. Yang terjadi sebenarnya adalah masyarakat Jawa saat itu telah memiliki kepercayaan akan adanya kekuatan yang bersifat tak terlihat (gaib), besar, dan menakjubkan. Mereka menaruh harapan agar mendapat perlindungan, dan juga berharap agar tidak diganggu kekuatan gaib lain yang jahat (roh-roh jahat).
The Circle tentu saja tidak murni sebagai kisah nyata, tapi hanya mengambil ide dasar dari sebuah mitologi yang ada di suatu daerah di Jawa. Melalui pengembangan dari fakta yang ada kemudian dikombinasi dengan unsur fiksi. Penggarapan dari film ini akan mengarah pada kisah petualangan yang menarik dan memberikan wawasan bagi penonton. Karena mengenal sebuah masyarakat etnik tertentu, tidak sekedar dari bentuk kostum dan bahasa yang digunakan semata. Tapi ada hal lain, yaitu nilai-nilai budaya dan filosofi yang terkandung di dalamnya dan tercermin dalam pola pikir dan adat-istiadatnya.
Sebagaimana masyarakat agraris lainnya di Indonesia, setiap daerah memiliki tradisi lisan. Tradisi lisan ini seringkali berkaitan dengan bahasa-bahasa ritual dan upacara adat formal yang berlaku dalam etnis tersebut. Demikian pula di Jawa, sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan hidup warga Dusun Harjo Binangun yang umumnya merupakan petani ladang kering, terdapat hubungan yang erat antara ritus dan mitos pertanian dengan keyakinan religius tradisional. Hal ini tampak pada ritus yang sering dilakukan oleh warga dusun berkaitan dengan permohonan kesuburan pada tanah mereka. Salah satunya adalah dengan menggelar pertunjukan wayang suket pada malam ke-100 tahun meninggalnya Laras Binangun [istri Den Baguse Suryo Binangun, pendiri Dusun Harjo Binangun].
Ritus-ritus yang dilaksanakan warga dusun berkaitan secara emosional dengan mitologi dan sistem kepercayaan mereka mengenai roh, alam semesta, bumi, dan kutukan. Sehingga untuk mengembalikan tanah mereka yang dulunya subur dan makmur, mereka mengadakan pemujaan terhadap roh-roh leluhur. Sedangkan oleh pengikut paham Darpin yaitu Pak Genggong, Yu Legi, Jeng Sri, Mbah Sukro, dan Kliwon, dengan menggunakan ritus yang lebih ekstrim dengan persembahan mayat segar [yang baru meninggal selama sehari] berjenis kelamin perempuan dan dilahirkan pada Selasa Legi [Anggara Kasih].
Adanya sistem kebudayaan Kejawen inilah yang ingin disampaikan – meski tidak dengan mendalam – bahwa Jawa adalah sebuah etnis yang eksotis. Tetapi, Jawa dalam konteks di film ini sengaja dikaburkan dan tidak menunjuk secara telak apakah itu Jawa di Jogjakarta, Surakarta, Pesisiran, atau yang lainnya. Tetapi yang jelas adalah menunjuk Jawa di seputar daerah Jawa Tengah. Hal ini dilakukan supaya tidak terjadi gejolak publik karena situasi mental masyarakat yang mudah terprovokasi.
Sejak zaman awal kehidupan Jawa (masa pra Hindu-Buddha), masyarakat Jawa telah memiliki sikap spiritual tersendiri. Era ini disebut juga sebagai zaman Jawa Kuno, di mana masyarakat Jawa menganut kepercayaan animisme-dinamisme. Yang terjadi sebenarnya adalah masyarakat Jawa saat itu telah memiliki kepercayaan akan adanya kekuatan yang bersifat tak terlihat (gaib), besar, dan menakjubkan. Mereka menaruh harapan agar mendapat perlindungan, dan juga berharap agar tidak diganggu kekuatan gaib lain yang jahat (roh-roh jahat).
The Circle tentu saja tidak murni sebagai kisah nyata, tapi hanya mengambil ide dasar dari sebuah mitologi yang ada di suatu daerah di Jawa. Melalui pengembangan dari fakta yang ada kemudian dikombinasi dengan unsur fiksi. Penggarapan dari film ini akan mengarah pada kisah petualangan yang menarik dan memberikan wawasan bagi penonton. Karena mengenal sebuah masyarakat etnik tertentu, tidak sekedar dari bentuk kostum dan bahasa yang digunakan semata. Tapi ada hal lain, yaitu nilai-nilai budaya dan filosofi yang terkandung di dalamnya dan tercermin dalam pola pikir dan adat-istiadatnya.
Sebagaimana masyarakat agraris lainnya di Indonesia, setiap daerah memiliki tradisi lisan. Tradisi lisan ini seringkali berkaitan dengan bahasa-bahasa ritual dan upacara adat formal yang berlaku dalam etnis tersebut. Demikian pula di Jawa, sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan hidup warga Dusun Harjo Binangun yang umumnya merupakan petani ladang kering, terdapat hubungan yang erat antara ritus dan mitos pertanian dengan keyakinan religius tradisional. Hal ini tampak pada ritus yang sering dilakukan oleh warga dusun berkaitan dengan permohonan kesuburan pada tanah mereka. Salah satunya adalah dengan menggelar pertunjukan wayang suket pada malam ke-100 tahun meninggalnya Laras Binangun [istri Den Baguse Suryo Binangun, pendiri Dusun Harjo Binangun].
Ritus-ritus yang dilaksanakan warga dusun berkaitan secara emosional dengan mitologi dan sistem kepercayaan mereka mengenai roh, alam semesta, bumi, dan kutukan. Sehingga untuk mengembalikan tanah mereka yang dulunya subur dan makmur, mereka mengadakan pemujaan terhadap roh-roh leluhur. Sedangkan oleh pengikut paham Darpin yaitu Pak Genggong, Yu Legi, Jeng Sri, Mbah Sukro, dan Kliwon, dengan menggunakan ritus yang lebih ekstrim dengan persembahan mayat segar [yang baru meninggal selama sehari] berjenis kelamin perempuan dan dilahirkan pada Selasa Legi [Anggara Kasih].
Adanya sistem kebudayaan Kejawen inilah yang ingin disampaikan – meski tidak dengan mendalam – bahwa Jawa adalah sebuah etnis yang eksotis. Tetapi, Jawa dalam konteks di film ini sengaja dikaburkan dan tidak menunjuk secara telak apakah itu Jawa di Jogjakarta, Surakarta, Pesisiran, atau yang lainnya. Tetapi yang jelas adalah menunjuk Jawa di seputar daerah Jawa Tengah. Hal ini dilakukan supaya tidak terjadi gejolak publik karena situasi mental masyarakat yang mudah terprovokasi.
Langganan:
Komentar (Atom)
